Sebutan Pondok Pesantren
Sumber Taman Pancor di kawasan desa Grujugan sudah ada sejak
tahun 1940. meskipun pada waktu itu belum memiliki nama yang baku, namun
pondok pesantren sumber taman pancor yang didirikan oleh KH. Sirajuddin ini
berandil besar dalam membentuk sistem dan tata nilai masyarakat yang agamis,
berilmu danberamal. Pada fase berikutnya, Perjalanan pondok pesantren ini
kurang nampak seiring dengan meninggalnya sang pendiri yang tidak memiliki
keturunan. Baru 20 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1960, cucu menantu
dari KH. Siradjuddin yaitu K. Hasbullah Marzuqi merintis berdirinya
lembaga pendidikan formal yaitu MI. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan. Sejak
didirikan, lembaga pendidikan formal ini mampu memberikan secercah
harapan bagi generasi penerus perjuangan akan terbentuknya
sebuah lembaga pendidikan yang mampu menjadi pelopor lembaga pendidikan
yang memiliki integritas, kualitas, kapabilitas dan aksepbilitas.
Tiga puluh tahun berselang, Akhirnya pada
tanggal 05 Jumadil Ula 1411 H bertepatan dengan tanggal 23 November 1990
M, KH. Ach. Fauzi Hasbullah secara resmi mendirikan Pondok
Pesantren. Pondok Pesantren ini pada mulanya bernama Pondok
Pesantren Putri Darun Nasyiat (Pon-Pes Tridat) yang untuk pertama
kalinya hanya menerima santri putri. Selang 1 tahun kemudian Pondok
Pesantren ini juga menerima santri putra dengan nama Pondok
Pesantren Putra Darun Nasyiin (Pon-Pes Tradin)
Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan perkembangan dunia
Pendidikan dan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, maka
diupayakan sebuah penyederhanaan dan penyelarasan nama Pondok Pesantren
untuk menjaga stabilitas operasionalisasi guna mempertahankan eksistensi
Pondok Pesantren. Atas beberapa pertimbangan tersebut, maka nama Pondok
Pesantren Putri Darun Nasyiat (Pon-Pes Tridat) dan Pondok Pesantren Putra Darun
Nasyiin (Pon-Pes Tradin) akhirnya diubah menjadi “PONDOK PESANTREN AN-NASYIIN”
Putra-Putri.
Seiring dengan perjalanan sang waktu dan
perkembangan zaman yang terus berubah dengan bergerak secara progresif,
maka merupakan sebuah keniscayaan jika kemudian Pondok Pesantren
An-Nasyiin melakukan berbagai percepatan dibidang pendidikan,
salah satunya dengan terus melakukan pengembangan dan penguatan struktur
kelembagaan. Maka dibentukalah beberapa lembaga yang memiliki tugas khusus dlam
membina potensi dan kebutuhan santri dan masyarakat. Di antaranya adalah:
Institute development of skill and language disingkat
IDOLA
Lembaga ini adalah sebuah institusi struktural dibawah
naungan Pondok Pesantren an-nasyiin yang memiliki tugas utama mengembangkan
kemampuan life skill dan bahasa asing santri, utamanya dalm
bahasa arab yang merupakan bahasa ilmu-ilmu agama otoritatif dan bahasa inggris
sebagai bahasa pergaulan internasional. Akan hal ini, maka dibentuklah lembaga
pengembangan bahasa. Daurah Luhah Arabiyah al-Madaniyah dalam bahasa Arab, dan
An-Nasyiin English course disingkat ANEC dan Brilliant English Course disingkat
BEC dalam bahasa Inggris. ANEC melakukan pembinaan dalm lingkup intern santri,
sedangkan BEC melakukan ekspansi pembelajaran bahasa inggris di ranah
eksternal.
Dalam perjalanannya, IDOLA sangt intens dalam
menjalankan dan mengembangkan kegiatannya. Tercatat, institut ii telah
melaksanakan kursus bahasa penerapan twinning program, bahasa arab dan inggris,
dalam keseharian santri, kursus bahasa setiap minggu, serta Ramadlan Fi Ma’had
An-Nasyiin disingkat MAFIDA setiap bulan suci Ramadlan. Pada pelaksanaan
MAFIDA, dilangsungkan ursus intensif Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Kursus
Komputer serta kursus keterampilan lainnya. Selain itu, para peserta MAFIDA
diberi tambahan suplement materi tarbiyatul ubudiyah, bengkel ibadah, chatting
dan mukalamah serta bimbingan-bimbingan lainnya.
Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) An-Nasyiin
Poskestren adalah lembaga pondok pesantren yang
bertugas memberikan bimbingan dan penyuluhan serta tindakan dalam upaya
menjaga kesehatan dan kebukaran pesantren.
KOPPONTREN (KOPERASI PONDOK PESANTREN) AN-NASYIIN
Lembaga ini khusus dibentuk dalam upaya pengembangan
ekonomi kepesantrenan.
COMANDO BARISAN ANTI ANARKHIS disingkat COBRA
Cobra An-Nasyiin, yang berada di bawah pembinaan
pendekar dan pengurus Pusat COBRA bergerak dalam seni survival atau seni
bertahan hidup. Seni bela diri yang dikembangkan adalah seni berbasis akhlaqkul
karimah yang senantiasa menekankan perilaku hati untuk tetap bersikap tawadlu’.
Jurus-jurus cobra dititik tekankan untuk memaksimalkan potensi fisiologis
santri, meningkatkan daya tahan tubuh dan seni gerakan indah. Memanfaatkan
jurus-jurus cobra untuk selain tujuan di atas, tentulah untuk tujuan amar
ma’ruf nahi mungkar, mengawal dan mendukung derap langkah perjuangan ulama
pewaris nabi, serta membela dan melindungi bangsa dan negara.
Selain kegiatan-kegiatan yang direalisasikan
lembaga-lembaga, tentu para santri secara full time melaksanakan rangkaian
aktivitasnya dibawah koordinasi pengurus pesantren sebagai sebuah struktur
organik yang diberi amanah oleh pengasuh pondok pesantren. shalat berjama’ah
lima waktu, etode wirid Tariqah Qadiriyah Wan-Naqsyabandiyah, tadarus
Al-Qur’an, pengajian kitab, jam belajar, istighatsah setiap kamis sore d
maqbarah An-Nasyiin, Shalawat mahallul qiyam, Bahtsul Masa’il Diniyah, latihan
muhadlarah setiap malam jum’at, membaca Ratibul Haddad secara kolosal setiap
selasa dan jum’at pagi. Semua kegiatan ini dibawah koordinasi Seksi Pendidikan
dan ubudiyah. D samping itu, santri juga melakukan kegiatan ro’an atau kerja
bhakti setiap hari jum’at pagi.
Selain itu, di bawah koordinasi Seksi Pengembangan
minat dan bakat, para santri diberikan kesempatan untuk menggali potensinya
dengan mengikuti kegiatan latihan olah vokal yang meliputi latihan shalawat dan
seni qira’ah yang dibina oleh para instruktur yang kredibel dan memiliki
keahlian di bidangnya. Potensi olah raga, juga dibina oleh seksi ini.








amazing,,,,,
BalasHapuslanjutkan n sukses,,,, !!!
:)